2855. MASALAH SUJUD SAHWI DALAM SHALAT JAMA'AH
Sumber: http://www.piss-ktb.com/2013/11/2855-shalat-masalah-sujud-sahwi-dalam.html?m=1
Terimakasih, tetap mencantumkan sumber kutipan.
Sumber: http://www.piss-ktb.com/2013/11/2855-shalat-masalah-sujud-sahwi-dalam.html?m=1
Terimakasih, tetap mencantumkan sumber kutipan.
Assalamu’alaikum warahmatullaHi wa barakatuh… Para Ustadz.. yang saya muliakan.. saya mau bertanya jika ada imam sholat..dia lupa pada saat sholat dzuhur pada rokaat ketiga dia hampir bertahiyat akhir.. namun ada makmun yg mengingatkan ” subhanallah” hingga imam bangun kembali untuk menambah satu rokaat…akan tetapi setelah tahiyat akhir sebelum salam imam melakukan sujud syahwi.. Pertanyaan saya :
1. apakah perlu dilakukan sujud sahwi padahal imam sudah menggenapi menjadi 4 rokaat ?
2. apakah sujud sahwi hanya berlaku untuk sholat munfarid atau boleh pada saat sholat jamaah ?
3. kalau boleh sujud sahwi..apakah makmum masbuk mengikuti imam juga untuk melakukan sujud sahwi ?
4. kalau harus sujud sahwi apa hukumnya makmun yang tidak mengikuti imam sujud sahwi ?
JAWABAN :
> Ibnu Al-Ihsany
** Jika imam belum bangun lalu ingat bahwa dia berada di rokaat ke-3 maka dia wajib menambah 1 rokaat untuk menggenapi 4 rokaat. Dan tanpa sujud sahwi (tdk sunnah sujud sahwi).* Alasan: karena TIDAK ADA ihtimal (kemungkinan) menambah rukun fi’li.
** Namun jika imamnya sudah bangun untuk menambah satu rokaat disertai keraguan, kemudian dipertengahan keraguan sebelum salam dia ingat bahwa rokaat sebelumnya adalah rokaat ke-3, dan tambahan rokaat adalah rokaat ke-4, maka disunnahkan sujud sahwi.* Alasan: karena ADA ihtimal (kemungkinan) menambah rukun fi’li.
NAMUN JIKA DILIHAT DARI MEMINDAH RUKUN QOULI, MAKA DISUNNAHKAN SUJUD SAHWI. Jika imam telah mengucapkan tasyahud, karena dia telah tasyahud akhir bukan di tempat semestinya.
Selengkapnya lihat ta’bir berikut:
كاشفة السجا شرح سفينة النجا صحـ ٧٠
{فصل}في بيان مقتضى سجود السهو وما يتعلق به
PasalMenerangkan tentang perkara yang menuntut sujud sahwi dan perkara yang berkaitan dengannya.
أسباب سجود السهو في الصلاة فرضا أو نفلا أربعة
perkara-perkara yang menyebabkan sujud sahwi di dalam sholata, baik sholat fardhu atau sholat sunnah ada 4:
الثالث نقل ركن أو غيره قولي أوبعضه ولو عمدا غير مبطل نقله إلى غير محله
Yang ketiga: memindah rukun atau selain rukun yang termasuk ucapan atau sebagiannya, meskipun dilakukan dengan sengaja yang tidak batal ketika memindahnya, pada selain tempatnya.
كقراءة الفاتحة أو سورة الإخلاص أو بعضها في القعود بنياتها
seperti memindah bacaan al fatihah atau surat ikhlas atau sebagiannya ketika duduk dengan niat membacanya
نعم يستثنى من ذلك التسيحات فلا يسجد لنقلها على المعتمد وإن قصدها لأن جميع الصلاة قابلة لها إذ لم ينه عن التسبيح في شيئ منها بخلاف القراءة فإنها منهي عنها في غير محلها
benar memindah rukun atau bukan yg termasuk qouli pada selain tempatnya sunnah sujud sahwi.Namun dikecualikan untuk bacaan tasbih, ketika memindah tasbih maka tidak disunnahkan sujud sahwi menurut pendapat yang mu’tamad, meskipun menyengaja tasbih. Karena keseluruhan sholat menerima (boleh) untuk bertasbih, dan tidak dilarang.
Berbeda halnya dengan bacaan, hal tersebut dicegah diselain tempatnya.
** Langsung ke perkataan pengarang **
الرابع إيقاع ركن فعلي مع احتمال الزيادة أي مع التردد في زيادته
Yang keempat: terjadinya rukun fi’li beserta kemungkinan menambah rukun, maksudnya disertai keraguan di dalam penambahannya.
بأن شك في ركعة من الرباعية هل صليت ثلاثا وهذه التي أريد الإتيان بها رابعة أم رابعة وهي خامسة فبنى على اليقين وانتصب للإتيان بركعة
dengan gambaran seseorang ragu pada satu rokaat di dalam sholat yang 4 rokaat; Apakah saya telah sholat 3 rokaat, dan rokaat yang hendak saya lakukan adalah rokaat ke-4, atau saya sudah sholat 4 rokaat, dan rokaat berikutnya adalah ke-5? MAKA BERDASAR YANG YAQIN (yakni yang terendah/paling sedikit yaitu sdh 3 rokaat), dan bangun untuk menambah 1 rokaat lagi.
ثم بعد انتصابه تذكر في أثنائها وقبل السلام أنها رابعة فيسن السجود
Kemudian setelah dia bangun dalam pertengahan rokaat tersebut dan belum salam, orang tersebut ingat bahwa rokaat tersebut adalah rokaat ke-4, maka disunnahkan sujud sahwi
لأن ما فعله منها عند الانتصاب لها وقبل التذكر محتمل للزيادة أي احتمال أن يكون من الخامسة وأن يكون من الرابعة
KARENA rokaat yang dilakukan ketika bangun untuk menambah rokaat dan sebelum ingat itu DIMUNGKINKAN menambah, yakni kemungkinan tambahan itu rokaat ke-5 atau rokaat ke-4
بخلاف ما لو تذكر في تلك الركعة المشكوك بها قبل الانتصاب لغيرها أنها رابعة فلا سجود
BERBEDA HALNYA ketika orang itu ingat pada rokaat yg diragukan SEBELUM BANGUN UNTUK SELAIN ROKAAT ITU, bahwa rokaat tersebut adalah rokaat ke-4, maka tidak disunnahkan sujud
وكذا لو تذكر أنها ثالثة فأتى بركعة فلا سجود عليه أيضا
Begitu pula ketika ingat bahwa rokaat tersebut rokaat ke-3 (sebelum bangun untuk menambah), kemudia orang tersebut (harus) menambah 1 rokaat lagi, maka JUGA tidak disunnahkan sujud
لأن ما فعله منها مع التردد لا يحتمل زيادة لأنه لا بد منه سواء كان في الثالثة أو الرابعة
Alasannya:Karena yang dilakukan orang tersebut dengan disertai ragu-ragu TIDAK MEMUNGKINKAN adanya menambah, karena yg dilakukannya itu hal yang tidak bisa tidak pasti dalam rokaat tersebut baik itu pada rokaat ke-3 atau ke-4
Tambahan lanjutannya:
ــ إلى أن قال ــ
ويلحق المأموم سهو إمامه وكذا عمده كما يحمل الإمام سهوه سواء سها قبل اقتدائه به أم حال اقتدائه، فإن سجد إمامه تابعه وجوبا وإن لم يعرف أنه سها حتى لو اقتصر على سجدة واحدة سجد المأموم أخرى فإن ترك متابعته عمدا بطلت صلاته ثم يعيد السجود مسبوق آخر صلاته لأنه محل سجود السهو ، وإن لم يسجد الإمام وسلم سجد المأموم آخر صلاته جبرا لخلل صلاته بسهو إمامه
Ma’mum wajib mengikuti imam untuk sujud sahwi.Jika tidak mengikuti dengan sengaja batal sholatnya ma’mum.Meskipun sudah sujud sahwi bersama imam atau imamnya tidak sujud sahwi dengan adanya perkara yg menyebabkan sujud sahwi, ma’mum disunnahkan sujud sahwi kembali pada akhir sholatnya sebelum salam.
Wallahu ta’ala a’lamu bishshowab.
> Abdullah Afif
Wa’alaikumussalaam…
1. apakah perlu dilakukan sujud sahwi pdhl imam sdh menggenapi menjadi 4 rokaat ?
Jawaban sebagaimana ditulis oleh ustadz Ibnu Al-Ihsany…
وكذا لو تذكر أنها ثالثة فأتى بركعة فلا سجود عليه أيضا
Begitu pula ketika ingat bahwa rokaat tersebut rokaat ke-3 (sebelum bangun untuk menambah), kemudia orang tersebut (harus) menambah 1 rokaat lagi, maka JUGA tidak disunnahkan sujud.
2. apakah sujud sahwi hanya berlaku untuk sholat munfarid atau boleh pd saat sholat jamaah?3. kalau blh sujud sahwi..apakah makmum masbuk mengikuti imam juga untuk mtlakukan sujud sahwi ?
Jawaban sebagaimana ditulis oleh ustadz Ibnu Al-Ihsany…
فإن سجد إمامه تابعه وجوبا وإن لم يعرف أنه سها حتى لو اقتصر على سجدة واحدة سجد المأموم أخرى فإن ترك متابعته عمدا بطلت صلاته ثم يعيد السجود مسبوق آخر صلاته لأنه محل سجود السهو ، وإن لم يسجد الإمام وسلم سجد المأموم آخر صلاته جبرا لخلل صلاته بسهو إمامه
Ma’mum wajib mengikuti imam untuk sujud sahwi.Jika tidak mengikuti dengan sengaja batal sholatnya ma’mum. Meskipun sudah sujud sahwi bersama imam atau imamnya tidak sujud sahwi dengan adanya perkara yang menyebabkan sujud sahwi, ma’mum disunnahkan sujud sahwi kembali pada akhir sholatnya sebelum salam.
Dan juga dari Fat_hul Mu’in 1/205, maktabah syamilah
وعند سجوده يلزم المسبوق والموافق متابعته وإن لم يعرف أنه سها وإلا بطلت صلاته إن علم وتعمد ويعيده المسبوق ندبا آخر صلاة نفسه
Ketika imam melakukan sujud sahwi, maka makmum masbuq dan makmum muwafiq wajib mengikutinya, meskipun makmum tidak mengetahui bahwa imamnya lupa, jika tidak mengikuti maka shalatnya batal jika memang mengetahui dan sengaja. Makmum masbuq disunnahkan mengulangi sujud sahwi pada akhir shalatnya.
Wallaahu A’lam
LINK ASAL :
https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/658058067550338
https://mbasic.facebook.com/notes/pustaka-ilmu-sunni-salafiyah-ktb-piss-ktb/2855-shalat-masalah-sujud-sahwi-dalam-shalat-jamaah/679191828770295/?refid=18
1.BAB SUJUD SAHWY
أَسْباَبُ سُجُوْدِ السَّهْوِ أَرْبَعَةٌ , الأَوَّلُ تَرْكُ بَعْضٍ مِنْ أَبْعاَضِ الصَّلاَةِ أَوْ بَعْضِ البَعْضِ , الثَّانىِ فَعْلُ ماَيُبْطِلُ عَمْدُهُ وَلاَ يُبْطِلُ سَهْوُهُ إِذاَ فَعَلَهُ ناَسِياً , الثاَّلِثُ نَقْلُ رُكْنٍ قَوْلِىٍّ إِلىَ غَيْرِ مَحَلِهِ الرَّابِعُ إِيْقاَعُ رُكْنٍ فَعْلِىٍّ مَعَ احْتِماَلِ الزِّياَدَةِ
Artinya :
Sebab-sebab sujud sahwi ada empat :
1. Meningalkan sunnah ‘Ab’ad atau bagian sunnah Ab’ad.
2. Melakukan sesuatu, yang jika disengaja membatalkan shalat, tetapi tidak disengaja maka tidak batal
3. Melakukan rukun Qauliy (bacaan) bukan pada tempatnya
4. Menambah rukun Fa’liy (perbuatan) yang disertai adanya keraguan.
أَبْعاَضُ الصَّلاَةِ بِالإِجْماَلِ سَبْعَةٌ أَمَّا بِالتَّفْصِيْلِ فَهِىَ عِشْرُوْنَ فَفِى القُنُوْتِ مِنْهاَ أَرْبَعَةَ عَشَرَ وَهِىَ القُنُوْتُ وَقِياَمُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَى النَّبِىِّ وَقِياَمُهُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْهِ وَقِياَمُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَى الآلِ وَقِياَمُهُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْهِمْ وَقِـياَمُهُ وَالصَّـلاَةُ عَلَى الصَّحْبِ وَقِـياَمُهُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْهِمْ وَقِياَمُهُ , وَفىِ التَّشَهُدِ سِتَّةٌ وَهِىَ التَّشَهُدُ الأَوَّلُ وَقُعُوْدُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَى النَّبِىِّ فِيْهِ وَقُعُوْدُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَى الآلِ فىِ التَّشَهُدِ الأَخِيْرِ وَقُعُوْدُهُ
Artinya :
Sunnah Ab’ad sholat garis besarnya ada 7, adapun secara rinci ada 20, yaitu ;
Dalam Qunut ada 14 yaitu ; Qunut, berdiri saat qunut, Sholawat pada Nabi SAW di qunut, berdiri saat sholawat, Salam pada Nabi SAW di qunut, berdiri saat salam, sholawat pada keluarga, berdiri saat sholawat pada keluarga, salam pada keluarga, berdiri saat salam pada keluarga, sholawat pada sahabat, berdiri saat sholawat pada keluarga, salam pada sahabat dan berdiri saat salam pada sahabat.
Dalam Tasyahud ada 6 yaitu ; Tasyahud awal, duduk tayashud awal, Sholawat pada Nabi SAW di Tasyahud Awal, Duduk saat sholawat pada Nabi, Sholawat pada Keluarga Tasyahud Akhir, Duduk saat Sholawat pada Keluarga Tasyahud Akhir.
Sujud sahwi hukumnya sunnah, cara sujud sahwi dilakukan dua sujud dan diselingi duduk antara keduanya sama seperti duduk diantara dua sujud dalam shalat. Meskipun banyak melakukan penyebab sujud sahwi, sujud sahwi tetap dilakukan satu kali, waktunya sebelum salam, dan dalam sujud ideualnya tasbih berikut, sebanyak tiga kali ;
سُبْحاَنَ مَنْ لاَيَناَمُ وَلاَيَسْهُ
“Maha suci Dzat yang tidak pernah tidur dan lupa”
Kitab Kasyifatus-Sajaa, Syarah Safinatun-Naja – Syekh Nawawiy Al-Bantaniy
Pertanyaan :
12 May 14, 05:52 AM
apa kabar Tuan Guru TGK Alizar, mudah2an selalu sehat, aamiin. Maaf Tgk, saya ada pertanyaan lg, apakah benar sujud sahwi yg dilakukan krn meninggalkan qunut subuh itu diharamkan?
Jawab :
Sebagaimana dimaklumi menurut mazhab Syafi’i, qunut merupakan amalan yang disunnatkan dalam shalat Subuh. Apabila qunut ini lupa dibaca pada tempat pembacaannya, yakni waktu melakukan i’tidal, maka disunnatkan sujud sahwi sebagai penggantinya. Anjuran sujud sahwi ketika tertinggal qunut ini berdasarkan analogi (qiyas) kepada anjuran sujud sahwi pada ketika tertinggal tasyahud awal dalam shalat dengan ‘illah (alasan hukum) sama-sama merupakan amalan sunnat maqshudah, sehingga perlu ditempel dengan sujud sahwi. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa tidak haram sujud sahwi karena meninggalkan qunut subuh, bahkan itu dianjurkan.
Yang dimaksud dengan sunnat maqshudah adalah amalan sunnat dalam shalat yang berdiri sendiri, bukan sebagai penyempurna amalan lain. Ini berbeda dengan takbir, tasbih, jihar, duduk tawarruk dalam tasyahud akhir, duduk iftiras dalam duduk tahyat awal dan lainnya.[1] Takbir merupakan zikir intiqalat (berpindah) dari satu rukun kepada rukun lain, tasbih merupakan zikir untuk menyempurnakan ruku’ dan sujud dan seterusnya.
Adapun dalil yang menjelaskan kepada kita sunnat sujud sahwi apabila tertinggal tasyahud awal antara lain adalah hadits Abdullah bin Buhainah berbunyi :
صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين ثم قام فلم يجلس فقام الناس معه فلما قضى صلاته وانتظرنا تسليمه كبر فسجد سجدتين وهو جالس قبل التسليم ثم سلم.
Artinya : Rasulullah SAW shalat dengan kami dua raka’at. Kemudian beliau berdiri dan tidak duduk. Orang-orangpun berdiri mengikuti beliau. Tatkala beliau menyelesaikan shalatnya dan kami menunggu bacaan salam beliau, maka beliau bertakbir dan sujud dua kali dan beliau duduk sebelum salam dan kemudian baru melakukan salam.(al-imam al-sittah)[2]
Al-Khutabi mengatakan bahwa hadits ini termasuk dalam hadits mu’tamad (menjadi pegangan) para ahli ilmu [3] Dalam hadits ini, Rasulullah SAW meninggalkan tasyahud awal karena lupa, namun beliau tidak mengulanginya lagi, tetapi hanya beliau melakukan sujud sahwi.
Dalam kitab beliau, al-Muhazzab, al-Syairazi, mengatakan :
والثانى أن يترك القنوت ساهيا فيسجد للسهو لانه سنة مقصودة في محلها فتعلق السجود بتركها كالتشهد الاول
“Yang kedua, seseorang meningalkan qunut dalam keadaan lupa, maka hendaknya ia sujud sahwi, karena qunut merupakan sunnat maqshudah pada tempatnya, karena itu dihubungkan sujud dengan sebab meninggalkannya sama seperti tasyahud awal.[4]
Catatan :
Kitab al-Muhazzab merupakan matan dari kita Majmu’ Syarh al-Muhazzab karya Imam al-Nawawi seorang ulama besar dari kalangan mazhab Syafi’i.
[1] Al-Syairazi, al-Muhazzab, (Dicetak dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab), terbitan : Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. IV, Hal. 52
[2] Jamaluddin al-Zaila’i, Takhrij Ahadits al-Kasyaf, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 297
[3] Al-Khuthabi, Ma’alim al-Sunan,Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 238
[4] Al-Syairazi, al-Muhazzab, (Dicetak dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab), terbitan : Maktabah al-Irsyad, Jeddah, Juz. IV, Hal. 52
Lupa adalah sifat bawaan manusia seperti bunyi maqolah al-insan mahallul khatha’ wan nisyan. Begitu akutnya lupa bagi manusia, sehingga fiqihpun memberikan ruang istimewa bagi mereka yang benar-benar lupa. Misalkan lupa makan atau minum ketika berpuasa, maka hal itu dianggap sebagai rizki dan tidak membatalkan puasa. Hadits Rasulullah saw mnegatakan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا فَلَا يُفْطِرْ فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ رَزَقَهُ
Barang siapa yg lupa, lalu makan atau minum ketika berpuasa, maka janganlah membatalkan puasanya, karena hal itu adl rizqi yg Allah berikan kepadanya. Bahkan dalam Lubbul Ushul Imam Zakariya Al-Anshari dalam muqaddimahnya mengatakan bahwa:
وَالأَصَحُّ إِمْتِنَاعُ تَكْلِيْفِ الْغَافِلِ وَالْمُلْجَأِ، لاَ الْمُكْرَهِ.
Demikianlah syriat memberikan jalan keluar bagi mereka yang lupa. Lupa biasa terjadi pada sesuatu yang sering dilakukan. Begitulah manusia, semakin sering melakukan sesuatu semakin tinggi kemungkinan terjadi lupa. Karena jika tidak melakukan sesuatu pastilah ia tidak lupa, begitu logiknya. Hanya orang yang melasanakan shalatlah yang lupakan rukuk atau sujud. Dan hanya orang yang wudhu yang akan terancam lupa membasuh muka atau tangan. Lalu bagaimanakah jika hal ini benar-benar terjadi? Jikalau memang seseorang benar-benar lupa mengerjakan satu rukun tertentu, dan ia sama sekali tidak ingat dan tidak ada orang yang mengingatkannya maka ibadah itu hukumnya tetap syah.
Namun jika ia teringat kembali dan meyakini adanya kelalaian itu hendaklah ia memperbaikinya. Misalkan seseorang lupa meninggalkan satu atau dua rekaat dalam shalatnya, sedangkan ia telah mengucap salam sebagai tanda finish dalam sholat. Maka jikalau ingatan itu datang dalam waktu dekat hendaklah ia menambah rakaat yang ditinggalkannya dan mengakirinya dengan sujud sahwi. Tetapi jikalau ingatan itu baru datang setelah beberapa lama (misalkan baru teringat setelah baca dzikir) maka orang tersebut wajib mengulangi shalatnya kembali. Begitu keterangan dalam Majmu’
اذا سلم من صلاته ثم تيقن انه ترك ركعة او ركعتين اوثلاثا او انه ترك ركوعا اوسجودا اوغيرهما من الاركان سوى النية وتكبرة الاحرام فان ذكر السهوقبل طول الفصل لزمه البناء على صلاته فيأتى بالباقى ويسجد للسهو وان ذكر بعد طول الفصل لزمه استئناف الصلاة
Apabila seseorang telah salam (usai shalatnya) kemudian ia baru teringat bahwa ia telah melupakan (meninggalkan) satu atau dua atau tiga rakaat atau ia lupa telah meninggalkan rukuk atau sujud atua rukun lainnya kecuali niyat dan takbiratul ihram, maka ia cukup menambahi (menyusuli) apa yang telah dilupakannya itu dengan sujud sahdi, jikalau ingatan itu segera datang. Tetapi jikalau ingatan itu datangnya setelah beberapa lama maka hendaklah ia mengulangi shalatnya kembali.
Berbeda ketika seseorang lupa meninggalkan satu rukun tertentu (ruku’ atau baca fatihah) maka ketika ia ingat dan ia belum melakukan rukun yang sama pada rekaat setelahnya, hendaklah ia segera mengganti rukun yang ditinggalkan itu. Dan apabila ia lupa, maka itulah apapun yang dilakukannya sudah cukup dan dianggap sah karena memang lupa. Begitu keterangan dalam Fathul Mu’in Hamisy I’anathut Thalibin
ولو سها غير مأموم فى الترتيب بترك ركن كأن سجد قبل الركوع أو ركع قبل الفاتحة لغا مافعله حتى يأتي بالمتروك فان تذكر قبل بلوغ مثله أتى به والا فسيأتى بيانه… وإلا أي وان لم يتذكر حتى فعل مثله فى ركعة أخرى أجزأه عن متروكه ولغا ما بينهما هذا كله ان علم عين المتروك ومحله…
Ragu di tengah-tengah Shalat
Lupa berbeda dengan ragu-ragu. Jikalau yang terjadi adalah keragu-raguan, maka perlu meninjau masalahnya secara detail. Ketika seseorang mengalami keraguan di tengah-tengah shalatnya, apakah dia sudah melakukan satu ferdhu tertentu (ruku’,misalnya) atau belum. Maka masalah ini perlu diperinci lagi, jika keraguan terjadi sebelum orang itu melakukan fardhu yang ditinggal (ruku’) tersebut pada rekaat setelahnya, maka ia harus kembali untuk melakukan fardhu yang ditinggal (ruku’). Namun jika keraguan itu datang setelah ia melakukan fardhu yang sama yang ditinggalkannya (ruku’) pada rekaat setelahnya, cukuplah baginya meneruskan shalat dan menambah satu rakaat lagi, sebagai pengganti satu rukun yang ditinggalkannya itu. Begitu keterangan dalam Fathul Mu’in Hamisy I’anathut Thalibin
… أو شك هو أي غير المأموم فى ركن هل فعل أم لا كأن شك راكعا هل قرأ الفاتحة أوساجدا هل ركع أواعتدل أتى به فورا وجوبا ان كان الشك قبل فعله مثله أي مثل المشكوك فيه من ركعة أخرى
Ragu Setelah Shalat Selesai
Begitu juga ketika terjadi keraguan setelah shalat, apakah shalat yang telah dikerjakan itu telah lengkap ataukah ada rukun tertentu yang tertinggal, maka shalat semacam itu secara fiqih tetap dianggap syah dan tidak perlu mengulanginya kembali. Kitab Khasiyah Qulyubi wa Umairah menjelaskan
ولوشك بعد السلام فى ترك فرض لم يؤثر على المشهور – لان الظاهر وقوع السلام عن تمام
Jikalau setelah salam (selesai shalat) sesorang ragu dalam meninggalkan/melaksanakan satu fardhu tertentu, maka hal itu tidak berpengaruh (tetap syah) menurut pendapat yang masyhur. Karena dalam kenyataannya ia telah melakukan salam dan (shalat dianggap) sampurna.
Dengan kata lain, lupa dan ragu adalah dua hal yang berbeda. Begitu pula cara penyelesaiannya. Hukum lupa segera dicabut ketika datang ingatan. Selama seseorang dalam kondisi lupa ia akan terbebas dari tuntutan syari’ah, dan ketika ia teringat kembali, maka orang tersebut kembali terkena tuntutan syari’ah. Seperti contoh berpuasa, ketika seseorang lupa bahwa ia sedang menjalankan puasa, maka ia terbebas dari tuntutan syari’ah boleh makan dan minum. Namun ketika ia teringat kembali bahwa ia puasa, maka ia wajib menahan semuanya dan kembali berpuasa. Sedangkan ragu-ragu bisa hilang karena adanya keyakinan. Dan tidak ada keraguan yang dibarengai dengan keyakinan.
Redaktur: Ulil Hadrawy
Bacaan Tahlil Lengkap Doa dalam Tulisan Arab, Latin dan terjemahannya Bacaan tahlil umumnya dibaca berjamaah untuk mendoakan orang meningg...